Hubungan Peran Keluarga Dan Lingkungan Sosial Dengan Identitas Diri Transgender Di LSM Kebaya Yogyakarta

Cristin Wiyani, Aprilia Dewi Nurlitasari, Endang Nurul Syafitri

Abstract


Transgender merupakan ketidakpuasan psikologis terhadap gender biologinya sendiri. Gangguan identitas diri bisa dipengaruhi beberapa hal antara lain peran keluarga dan lingkungan sosial. Dari ketiga transgender didapatkan lingkungan sosialnya saat mereka remaja lingkungan menolak atas keberadaan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran keluarga dan lingkungan sosial dengan identitas diri transgender di LSM Kebaya Yogyakarta. Penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Berjumlah 60 responden menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa lembar kuesioner. Penelitian dilaksanakan di LSM Kebaya Yogyakarta. Menggunakan analisa bivariat uji Chi-Square. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar responden berumur 21-40 tahun (dewasa awal) sebanyak 30 (50,0%). Dan sebagian besar responden bekerja sebagai pengamen sebanyak 20 (33,3%). Peran keluarga mayoritas tidak berperan sebanyak 33 (55,0%), lingkungan sosial mayoritas mendukung sebanyak 38 (63,3%), dan identitas diri mayoritas memiliki identitas diri yang negatif sebanyak 35 (58,3%). Hasil analisis bivariat untuk peran keluarga dengan identitas diri diperoleh p-value 0,048. Sedangkan analisis bivariat untuk lingkungan sosial dengan identitas diri diperoleh p-value 0,024. Kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan peran keluarga dan lingkungan sosial dengan identitas diri transgender di LSM Kebaya Yogyakarta.

Keywords


Peran Keluarga; Lingkungan Sosial; Identitas Diri; Transgender

Full Text:

PDF

References


Tamami, Devi. (2014). “Eksplorasi Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Seseorang Memutuskan Menjadi Transgender Di Komunitas Kabaret Malioboro Yogyakarta”. Tidak Dipublikasikan.Universitas Respati Yogyakarta.

Gates, G. J. (2011). How many people are lesbian, gay, bisexual and transgender.

Direktoral Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial. (2010). http://rehsos.kemsos.go.id/. Diakses 02 November 2016

Papalia, E. Diane, Old,W. Sally, Feldman, D. Ruth. 2009. Human Development (PerkembanganManusia), Edisi 10. Buku 2. Jakarta: SalembaHumanika

Saam, Z., &Wahyuni, S. 2013. PsikologiKeperawatan. Cetakan 1, Edisipertama. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada

Soetjiningsih. (2009). TumbuhKembangRemajadanPermasalahannya. Jakarta: CV. SagungSeto

Inayah, S. (2016). “Psikologi Perkembangan Masa Dewasa Awal & Madya”. Skripsi. Universitas 17 Agustus Surabaya

Mengko, V.V., Kandowangko, N., & Lesawengen, L. (2016). “Kehidupan Waria di Kota Manado”. Jurnal Acta Diurna, 5 (4).

Susanki, S., & Oktavia, D.A (2017). “Kehidupan Waria di Jorong Mandiangin, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat”.Jurnal Ilmu Sosial Mamangan.

Friedman, Bowden & Jones. (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori & Praktik. Jakarta. EGC.

Sawitri, E. (2016). “Pandangan Keluarga Pada Anggota Keluarga yang Mengalami Gangguan Transeksual (Waria) di Kecamatan Kalikotes Kabupaten Klaten”. TRIAGE Jurnal Ilmu Keperawatan(Journal of Nursing Science). 4 (1).

Walgito, Bimo. (2010). PengantarPsikologiUmum. Yogyakarta: C.V Andi Offset

Prihatiningsih, D. (2014). “Pria Transeksual (Waria) Dalam Perspektif Nilai-Nilai Moral Sosial. (Studi Kasus di Seputaran Stadion Sriwedari kota Surakarta)”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta

Juwilda. (2010). Transgender “Manusia Keseragaman dan Kesetaraan”. Artikel Ilmiah Universitas Sriwijaya.

Arfanda, F., & Anwar, S. (2015). “Konstruksi Sosial Mayarakat Terhadap Waria”. KRITIS : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 1(1), 93-102.

Potter, P. A., & Perry G. A. (2010). Fundamental Keperawatan: Konsep, prosesdan praktik, edisi 7. Jakarta: EGC

Junita R. (2012). “Hubungan Interaksi Sosial Dalam Kelas Lintas Fakultas Dengan Identitas Diri Mahasiswa Reguler Angkatan 2009 FIK UI”. Skripsi. Universitas Indonesia.

Putri, M, T., & Sutarmanto , H. (2009). “Kesejahteraan subjektif waria pekerja seks komersial (PSK)”. Jurnal Psikohumanika, 2 (2), 46-55.

Salman, D., & Suradi, S. (2017). “Pembentukan Identitas Kaum Waria Kecamatan Bulukumba”. EQUILIBRIUM : Jurnal Pendidikan Sosiologi, 3 (1).

Lagut, Hendarsih, Wiyani(2013). “Faktor – Faktor yang Melatarbelakangi Pembentukan Identitas Diri Pada Remaja Transgender di Perkumpulan Yotha Naungan PKBI DIY”. Skripsi. Universitas Respati Yogyakarta.

Rokhmah, D. (2015). “Pola Asuh dan Pembentukan Perilaku Seksual Berisiko terhadap HIV/AIDS pada Waria”.Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(1), 123-134.

Francis, N.P. (2006). “Peranan orang tua terhadap proses pembentukan identitas jender pada waria”(Doctoral dissertation,FPsikologi-UI).

Weismann, I. T. J., & Depilori, D. (2014). “Penyebab Krisis Identitas Waria”. Jurnal Jaffray, 12 (1), 157-175

Safri, A. N., & Kalijaga, P.P.B.U.S. (2016) “Penerimaan Keluarga Terhadap Waria atau Transgender”.

Yelisni, dkk (2014). “Pengalaman Perubahan Identitas Diri pada Waria : Studi Fenomenologi”. Skripsi. Universitas Indonesia

Ruhgea, S., Mirza, M., & Rachmatan, R. (2014). “Studi Kualitatif Kepuasan Hidup Pria Transgender (Waria) di Banda Aceh”. Jurnal Psikologi Undip, 13 (1), 11-20




DOI: https://doi.org/10.35842/jkry.v6i3.397

Article Metrics

Abstract view : 0 View
PDF - 0 View

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.